Penebangan Hutan Kramabura, Waspadai Potensi Konflik Masyarakat

  • Whatsapp


BERITASATU, Dompu: Tokoh Masyarakat Desa Kramabura, H AW Syafrudin  mencermati kerusakan hutan lindung di Desa Kramabura Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat akibat penebangan liar.

Syafrudin meminta Pemerintah, terutama pemangku kehutanan dan aparat keamanan bertindak tegas dengan kejadian penebangan tersebut..

Ia menenggarai potensi konflik, perebutan lahan sudah nampak terlihat.  Tidak hanya sebagian warga Kramabura yang mulai masuk merambah hutan lindung, lanjutnya, tetapi juga warga desa lain, yakni sebagian warga Desa Serakapi, juga sudah mulai ikut merambah.

“Forkompinda dan Bupati yang beberapa waktu lalu datang melihat dan meminta warga untuk tidak membabat hutan, tidak berdampak,” katanya, Jum’at (17/9/2021).

Menurutnya, kunjungan Bupati bersama Dandim, Kapolres, Kejari dan Ketua DPRD  ke lokasi itu,t idak berdampaknya karnae tidak dibarengi dengan pengawasan dan pengamanan dari aparat meamanan.

Padahal, sebagian warga Kramabura, yang masih peduli dengan kelestarian hutan, sudah meminta aparat keamanan bertindak tegas.

Sementara itu, Bupati Dompu, Kader Jaelani juga mengaku prihatin. Bupati memiliki niat untuk menegakkan aturan dan melakukan upaya penegakan hukum. Namun, lagi-lagi terganjal aturan. Sebab, meski berada di wilayahnya, kawasan hutan itu menjadi tanggung jawab provinsi.

“Kita mau bertindak pasti salah. Sebab bukan kewenangan kami. Sementara, Provinsi seakan terkesan ansih soal hutan kita,” katanya.

Minimal, lanjut Bupati, jika tidak ada rencana pengembalian pengelolaan kawasan hutan ke Kabupaten, Pemprov NTB melalui Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi NTB, menurunkan tim gabungannya untuk turun. Pemerintah Kabupaten Dompu, akan memberikan back up dan dukungan atas upaya itu.

Keinginan kuat Pemkab Dompu untuk melakukan upaya itu, didasari jika nantinya terjadi bencana alam, daerah yang akan menjadi korban. Penerintah daerah sebatas memberikan himbauan saja agar masyarakat tidak lagi merusak hutan, meski untuk kepentingan perluasan pertanian. (imr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *