Anak Usaha Pertamina Latih Difabel Jadi Barista

  • Whatsapp


BERITASATU, Jakarta: Anak perusahaan Pertamina, Pertamina Training and Consulting (PTC), menggandeng Yayasan Inspirasi Indonesia Membangun (YIIM) menggelar rangkaian pemberdayaan masyarakat untuk bangkit dari pandemi COVID-19.

Direktur Utama PT PTC, Teuku Mirasvi mengungkapkan, bahwa dalam kesempatan kali ini, pihaknya melakukan pelatihan secara khusus untuk para penyandang disabilitas atau difabel.

“Terutama yang memiliki kekurangan fungsi anggota tubuh atau tuna daksa yang dilakukan secara tatap muka di Kedai Kopi Inspirasi YIIM. Terima kasih atas penyelenggaraan acara ini, ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan dari PT Pertamina Training and Consulting untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat,” kata Teuku di Kedai Kopi Inspirasi YIIM, Jakarta Selatan, Sabtu (18/9/2021).

Mirasvi menyampaikan, bahwa acara tersebut merupakan rangkaian acara pelatihan berseri kewirausahaan sosial yang diselenggarakan sejak 24 Agustus 2021 dengan program berupa barista kopi sudah terselenggara sebanyak 2 angkatan dengan total peserta 45 orang yang dilakukan secara daring selama lima hari dan enam orang terpilih mengikuti pelatihan tatap muka selama satu hari.

Selain pelatihan menjadi barista, menurut Mirasvi, pihaknya juga menggelar pelatihan kuliner frozen food yang telah terselenggara sebanyak dua angkatan dengan jumlah peserta 60 orang dilakukan secara daring selama tiga hari dan enam orang terpilih mengikuti pelatihan tatap muka selama satu hari di kantor YIIM.

“Pelatihan tatap muka dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat yaitu semua peserta wajib memiliki sertifikat vaksin, kemudian hasil swab negatif, mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak,” ujarnya.

Mirasvi menambahkan, bahwa program ini merupakan wujud dari kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) khususnya SDGs Nomor 1, yaitu mengurangi angka kemiskinan dan SDGs Nomor 10 untuk mengurangi ketimpangan serta SDGs Nomor 17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan.

Sementara itu Ketua Penguru YIIM Chrisbiantoro menyampaikan, terima kasih kepada PT PTC atas kerja sama yang telah digelar tersebut.

“Semoga ini menjadi awal yang baik dan barista kopi adalah salah satu program unggulan YIIM selain kuliner, barber, hidroponik, tata rias dan kelas sablon pakaian. Semoga program sosial ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),” katanya.

Chrisbiantoro menjelaskan, untuk materi yang diajarkan kepada peserta barista kopi khusus penyandang disabilitas adalah diantaranya pengenalan biji kopi, membuat base espresso, manual brew V 60, manual espresso menggunakan mokapot, manual frenchpress, manual vietnamdrip dan tubruk serta membuat espresso dengan mesin dan juga para peserta akan dibekali kemampuan membuat menu kopi dan kopi botolan serta minuman non kopi.

“Hasil yang diharapkan dari rangkaian program ini adalah peserta diharapkan dapat memiliki pengetahuan, keterampilan dan mampu membuka usaha kedai kopi UMKM ataupun bekerja di kedai kopi agar memberikan dampak positif bagi ekonomi para peserta,” ungkapnya.

Chrisbiantoro menyebutkan, pelatih dalam program ini seluruhnya adalah alumni program pelatihan barista kopi yang telah diselenggarakan oleh YIIM sejak 2018 lalu, bahkan salah satu diantaranya yakni Humam Hasan selaku pelatih kepala dalam program ini merupakan mantan warga binaan balai pemasyarakatan yang sukses menjadi barista kopi.

“Kemudian Ponco Sunarto, Siska, Fadila dan Hezra. Seluruhnya adalah alumni pemberdayaan pelatihan barista YIIM sejak tahun 2018 yang telah menghasilkan lebih dari 70 orang barista kopi,” ujarnya.

Salah satu peserta penyandang disabilitas, Festinalita Theresia Tampubolon mengatakan, bahwa pelatihan tersebut sangat bagus untuk menambahkan pengalaman dan kemampuannya menjadi seorang barista kopi.

“Ya pelatihannya sangat bagus, sangat jelas dan penyampaian dari kakaknya sudah tersampaikan dengan baik dan kami bisa praktek dengan baik. Dengan adanya pelatihan ini dengan ilmunya mungkin saya bisa mendalami lagi dan saya bisa mencari kerja di coffe shop dan kalau sudah mendalami mungkin saya akan buka usaha sendiri nantinya,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *