Mengenal Murderball, Metode Latihan Keras Ala Marcelo Bielsa

  • Whatsapp
10 Foto Anna Lewandowska, Istri Robert Lewandowski Pemegang Sabuk Hitam Karate


“Keras, kata yang paling tepat untuk menggambarkan metode latihan tersebut”

BERITASATU.MY.ID – Kapten Leeds United, Liam Cooper angkat bicara soal ‘Murderball’ yang diterapkan oleh pelatih utama Leeds United, Marcelo Bielsa. Latihannya melakukan sejumlah pertandingan latihan yang sangat intens dan serba cepat tanpa wasit serta tanpa jeda, karena bola terus dimainkan.

“Itu 100% sangat kacau,” ujar pemain asal Skotlandia soal metode latihan tak biasa milik pria Argentina tersebut.

“Kami melakukan segmen empat atau lima menit, mungkin empat atau lima kali, dengan staf di luar melemparkan bola kembali segera setelah keluar. Semuanya man-for-man, tidak ada jalan keluar. Dan angka yang dipasang para pemain dalam sesi ini konyol.”

“Pertandingannya hampir tampak lebih mudah daripada latihannya! Dan itu bukan hanya latihan yang keras, sesi taktisnya juga sangat mendalam. Kami selalu pergi ke lapangan dengan mengetahui persis apa yang akan dilakukan tim lawan, dan jika mereka ingin berubah, kita juga akan menutupinya.”

Seperti yang sudah diketahui bersama, eks pelatih Athletic Bilbao itu adalah orang yang sangat memperhatikan lawannya, dan itu berdampak penekanan kepada pemainnya, di mana mereka harus mengeluarkan semua kemampuannya hingga maksimal dalam latihan dan metode latihan itu adalah sesuatu yang baru di Liga Premier, bahkan di dunia sepakbola pada umumnya.

Cooper mengakui bahwa ketika pelatih kenamaan dunia seperti Pep Guardiola pun ” pasti akan terkejut melihatnya.”

“Anda mencoba mempersiapkan diri secara mental untuk menghadapi betapa sulitnya latihan itu, tetapi saya rasa Anda tidak bisa,” ujar pemain berusia 29 tahun itu.

“Anda tidak bisa siap untuk sulitnya itu sebenarnya. Butuh empat, lima, enam bulan bagi para pemain untuk mencapai kecepatan tertinggi dan berpikir, ‘Ya, inilah kita sekarang, kita bisa melakukan ini.'”

“Saya belum pernah bertemu pelatih manapun yang memakai pola latihan seperti dia,” tambah Cooper. 

“Itu adalah perubahan total bagi saya. Saya tahu, dengan membaca tentang dia, bagaimana timnya bermain seperti Athletic Bilbao dan intensitas yang mereka mainkan. Dan Anda berpikir, ‘Wow, apakah kita bisa meniru ini?’ Tapi kami telah menuai hasilnya.”

Kini dengan The Peacocks yang berada di peringkat ke-17 musim ini, Cooper masih menjadi pemain andalan di lini pertahanan Leeds hingga sekarang, pemain yang diberi julukan oleh Bielsa sebagai ‘League One Liam’ itu, tentu saja memiliki misi besar yang masih harus dicapai musim ini setelah tampil impersif pada musim 2020/2021.

“Saya merasa harus membuktikanpada diri saya sendiri bahwa saya cukup bagus untuk bermain di level ini,” ujar Cooper. 

“Saya tahu sebagai pemain dan kami tahu sebagai tim, kami tidak bisa bermain 100%. Kami harus tampil maksimal setiap minggu.”

“Ada tim di divisi ini yang bisa bermain 90% dan masih mengalahkan kami. Tapi kami tahu sebagai tim kami tidak bisa melakukan itu. Kalau tidak, kami akan ketahuan. Itu pesan saya kepada para pemain, kami perlu melakukan pendekatan. itu seperti pertandingan terakhir kami setiap saat. Dan mudah-mudahan itu cukup untuk mengkonsolidasikan kami di Liga Premier.”

Dini hari tadi (18/9/2021), anak asuh Bielsa kembali gagal mendapatkan poin penuh saat ditahan imbang 1-1 oleh Newcastle di  St James’ Park. Leeds United akan kembali memainkan pertandingan Liga Premier pada 25 September mendatang usai melakoni laga di Piala Liga menghadapi Fulham (22/9/2021), dan mari kita lihat bersama seberapa efektif metode latihan tersebut untuk membawa mereka kembali ke kompetisi Eropa musim depan.

(diaz alvioriki/muf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *