Menyaksikan Saudara Kandung Dipukuli Menyebabkan Masalah Mental

  • Whatsapp


BERITASATU, New Hampshire: Sebuah studi nasional AS dari University of New Hampshire menunjukkan anak-anak yang menyaksikan kekerasan pada saudara laki-laki atau perempuan oleh orang tuanya bisa sama traumanya dengan mereka yang menyaksikan kekerasan oleh orang tua terhadap pasangannya. Paparan tersebut dikaitkan dengan masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan dan kemarahan.

“Ketika kita mendengar tentang paparan kekerasan keluarga, kita biasanya berpikir tentang seseorang yang menjadi korban kekerasan fisik langsung atau menyaksikan serangan pada pasangan,” kata Corinna Tucker, profesor pengembangan manusia dan studi keluarga. 

“Tetapi banyak anak menyaksikan kekerasan pada saudara kandung tanpa menjadi korban langsung dan ternyata kita harus lebih memikirkan dinamika ini ketika kita menghitung efek dari paparan kekerasan dalam keluarga,” jelasnya, seperti dikutip dari situs University of New Hampshire, Minggu (19/9/2021).

Dalam studi mereka, yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Child Abuse & Neglect, para peneliti menggunakan data gabungan dari tiga survei nasional untuk melihat lebih dekat pengalaman lebih dari 7000 anak berusia BERITASATU.MY.ID satu bulan hingga 17 tahun. Ini termasuk setiap insiden di mana seorang anak melihat orang tua memukul, menggebuk, menendang atau melukai secara fisik (tidak termasuk menabok) saudara kandungnya di rumah mereka selama hidup mereka. 

Dari 263 (3,7%) remaja yang pernah mengalami kekerasan orang tua terhadap saudara kandung (EPAS), lebih banyak yang menyaksikan kekerasan dari ayah (70%) daripada ibu. Paparannya lebih besar pada anak laki-laki dan remaja dan bagi mereka yang orang tuanya punya, tetapi tidak menyelesaikan, pendidikan tinggi. Angka terendah dalam keluarga dengan dua orang tua biologis atau orang tua angkat. Angkanya tidak berbeda berdasar,an ras atau etnis. Remaja yang terpapar EPAS menunjukkan tingkat tekanan mental yang lebih tinggi seperti kemarahan, kecemasan, dan depresi.

“Di beberapa keluarga, EPAS mungkin menjadi bagian dari iklim kekerasan keluarga yang lebih besar,” kata Tucker. “Karena semakin banyak anggota keluarga yang terpapar kekerasan dalam rumah tangga, keamanan emosional di BERITASATU.MY.ID anggota keluarga dapat berkurang dan semakin sedikit kesempatan bagi anak-anak untuk mengamati, belajar, dan mempraktikkan respons yang sehat terhadap stres.”

Para peneliti mengatakan penelitian ini menyoroti kontribusi unik EPAS terhadap perasaan takut dan tekanan kesehatan mental di masa muda. Mereka berharap akan memperluas pemikiran seputar kekerasan dalam rumah tangga untuk mengenali EPAS sebagai bentuk paparan tidak langsung dan menyerukan aplikasi praktis dan klinis seperti intervensi dengan bertanya kepada saudara kandung tentang paparan mereka terhadap kekerasan, peningkatan pendidikan dan dorongan bagi orang tua, terutama ayah dan menawarkan cara untuk anak-anak yang terpapar untuk membantu dengan mendukung saudara kandung dan merasa aman memberi tahu orang dewasa lain.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *